{"id":904,"date":"2026-10-23T11:15:26","date_gmt":"2026-10-23T04:15:26","guid":{"rendered":"https:\/\/akuntabilitas.com\/?p=904"},"modified":"2026-10-26T10:53:54","modified_gmt":"2026-10-26T03:53:54","slug":"mengapa-data-tidak-pernah-bicara-sendiri-dalam-kebijakan-publik","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/akuntabilitas.com\/ro\/mengapa-data-tidak-pernah-bicara-sendiri-dalam-kebijakan-publik\/","title":{"rendered":"Integritas Hasil Survei: Mengapa Data Tidak Pernah Bicara Sendiri dalam Kebijakan Publik"},"content":{"rendered":"<p class=\"wp-block-paragraph\">Ketika lembaga survei merilis tingkat kepuasan publik terhadap kinerja pemerintah, masyarakat umumnya menganggap angka-angka tersebut sebagai cerminan objektif atas kondisi sosial yang sebenarnya. Namun, sebagai contoh, fenomena perbandingan data survei terkait kepuasan publik atas kinerja 2 tahun pemerintahan Prabowo &#8211; Gibran berikut menarik untuk dicermati:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li><strong>Poltracking Indonesia<\/strong> mencatat tingkat kepuasan publik berada pada angka <strong>55,3%<\/strong>.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Parameter Politik Indonesia (PPI)<\/strong> melaporkan tingkat kepuasan yang mencapai <strong>65,4%<\/strong>.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC)<\/strong> merekam angka <strong>44,5%<\/strong> publik yang menyatakan puas.<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dari hasil tersebut timbul pertanyaan, mengapa tiga lembaga riset bereputasi, yang mengukur subjek dan rentang waktu yang relatif bersamaan, dapat menghasilkan perbedaan angka hingga <strong>20,9 persen<\/strong>? Angka mana yang merupakan &#8220;fakta objektif&#8221;?<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Jawabannya: <strong>tidak ada angka statistik publik yang berdiri bebas dari nilai dan konteks.<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Disparitas hasil survei ini menjadi contoh nyata untuk memahami dinamika sains kebijakan publik modern. Selama beberapa dekade terakhir, gerakan <strong>Evidence-Based Policymaking<\/strong> <strong>(EBPM)<\/strong> diagungkan oleh para teknokrat. Asumsi dasarnya sangat memikat: jika sebuah masalah sosial diteliti dengan metodologi ilmiah yang presisi, maka pemerintah cukup mengambil keputusan berdasarkan apa yang terbukti secara empiris (<em>&#8220;what works&#8221;<\/em>).<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Namun, menganggap kebijakan publik dapat dijalankan layaknya eksperimen laboratorium yang steril merupakan sebuah pandangan yang naif. Seperti yang dijelaskan oleh <strong>Paul Cairney (2016)<\/strong> dan <strong>Justin Parkhurst (2017)<\/strong>, data riset tidak pernah bekerja dalam ruang hampa. Ketika sains dan angka statistik masuk ke arena publik, data tidak lagi menjadi kompas netral; ia berubah menjadi instrumen tawar-menawar, pembentukan opini, dan pertarungan politik.<\/p>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator has-alpha-channel-opacity\"\/>\n\n\n\n<h3 id=\"1-membedah-anatomis-bias-dalam-survei-kebijakan\" class=\"wp-block-heading\"><strong>1. Membedah Bias Metodologis dalam Survei Kebijakan<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Mengapa jajak pendapat (<em>opinion polling<\/em>) dapat menghasilkan potret realitas yang begitu berbeda?<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Jerry Mitchell (2007) dan Kosuke Imai (2018) menjelaskan bahwa penelitian survei deskriptif pada dasarnya bertujuan memotret persepsi publik pada satu titik waktu tertentu (<em>cross-sectional<\/em>). Survei dapat menggambarkan korelasi atau kecenderungan, tetapi <strong>tidak dirancang untuk membuktikan hubungan sebab-akibat murni<\/strong> apalagi menyajikan kebenaran mutlak.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Perbedaan angka pada hasil survei terjadi akibat hadirnya berbagai bias metodologis dalam proses penelitian:<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-table\"><table><thead><tr><th><strong>Jenis Bias Metodologis<\/strong><\/th><th><strong>Sumber dan Penyebab (Mitchell &amp; Imai)<\/strong><\/th><\/tr><\/thead><tbody><tr><td><strong>1. Sampling Frame Bias<\/strong><\/td><td>Perbedaan kerangka sampel, proporsi strata wilayah<br>(perkotaan vs pedesaan), dan pembobotan populasi.<\/td><\/tr><tr><td><strong>2. Question Wording Bias<\/strong><\/td><td>Penyusunan kalimat kuesioner yang mengarahkan<br>(leading questions) atau bersifat mendua.<\/td><\/tr><tr><td><strong>3. Social Desirability<\/strong><\/td><td>Kecenderungan responden memberikan jawaban &#8220;aman&#8221;<br>yang dianggap sesuai dengan norma sosial.<\/td><\/tr><tr><td><strong>4. Nonresponse Bias<\/strong><\/td><td>Penolakan responden untuk berpartisipasi atau<br>pengosongan jawaban pada pertanyaan sensitif.<\/td><\/tr><\/tbody><\/table><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\" id=\"a-bias-kerangka-sampel-sampling-frame-bias\"><strong>a. Bias Kerangka Sampel (<\/strong><strong>Sampling Frame Bias<\/strong><strong>)<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Setiap lembaga riset menyusun kerangka sampel (<em>sampling frame<\/em>) dan teknik pengacakan dengan asumsi populasi yang berbeda. Perbedaan proporsi strata geografis (seperti rasio responden perkotaan dan pedesaan) atau teknik pembobotan <em>post-stratification<\/em> dapat mengubah hasil akhir secara signifikan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>b. Bias Konstruksi Pertanyaan (<\/strong><strong>Measurement &amp; Wording Bias<\/strong><strong>)<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Cara sebuah pertanyaan dirumuskan (<em>framing effect<\/em>) sangat mempengaruhi jawaban responden. Pertanyaan yang diawali dengan narasi keberhasilan pemerintah (<em>leading questions<\/em>) cenderung menghasilkan skor kepuasan yang lebih tinggi dibandingkan pertanyaan yang netral atau menanyakan tentang krisis ekonomi.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>c.<\/strong> <strong>Social Desirability Bias<\/strong> <strong>dan Masalah Nonrespons<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Responden memiliki kecenderungan psikologis untuk memberikan jawaban yang selaras dengan norma sosial yang dominan (<em>social desirability bias<\/em>). Selain itu, fenomena <em>unit nonresponse<\/em> (kelompok masyarakat yang menolak diwawancarai) sering kali mengikis keterwakilan sampel di lapangan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>d. Memisahkan Persepsi Publik dari Kinerja Objektif<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kekeliruan yang sering terjadi dalam analisis kebijakan adalah <strong>menyamakan persepsi publik dengan kinerja objektif<\/strong> (Mitchell, 2007). Sebuah program dapat dirasakan &#8220;memuaskan&#8221; oleh publik karena gencarnya publikasi media, meskipun indikator pembangunan objektif menunjukkan hal sebaliknya. Dalam situasi ini, survei tidak lagi berfungsi sebagai alat evaluasi, melainkan menjadi instrumen advokasi politik (<em>surveys as political weapons<\/em>).<\/p>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator has-alpha-channel-opacity\"\/>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-stackable-heading stk-block-heading stk-block-heading--v2 stk-block stk-f53e4ac\" id=\"strong-2-psikologi-politik-pemrosesan-informasi-oleh-pembuat-kebijakan-strong\" data-block-id=\"f53e4ac\"><h3 class=\"stk-block-heading__text\"><strong>2. Psikologi Politik: Pemrosesan Informasi oleh Pembuat Kebijakan<\/strong><\/h3><\/div>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Mengapa para pengambil keputusan cenderung memilih data tertentu saja (<em>cherry-picking<\/em>)?<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Teori kebijakan klasik mengasumsikan bahwa pembuat kebijakan memiliki rasionalitas sempurna (<em>comprehensive rationality<\/em>). Padahal, Paul Cairney (2016) menegaskan bahwa para pejabat beroperasi dalam <strong>rasionalitas terbatas (<\/strong><strong>bounded rationality<\/strong><strong>)<\/strong>. Mereka dibatasi oleh waktu, krisis yang mendadak, serta kapasitas memproses data yang kompleks.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-table\"><table><thead><tr><th class=\"has-text-align-left\" data-align=\"left\"><strong>Metode Pemrosesan<\/strong><\/th><th class=\"has-text-align-center\" data-align=\"center\"><strong>Karakteristik Kognitif<\/strong><\/th><th class=\"has-text-align-center\" data-align=\"center\"><strong>Reaksi Terhadap Bukti<\/strong><\/th><\/tr><\/thead><tbody><tr><td class=\"has-text-align-left\" data-align=\"left\"><strong>System 1 (Fast)<\/strong><\/td><td class=\"has-text-align-center\" data-align=\"center\">Intuisi emosional, cepat, pintasan mental (heuristics).<\/td><td class=\"has-text-align-center\" data-align=\"center\">Menyukai narasi yang sederhana dan data yang mendukung pandangan awal.<\/td><\/tr><tr><td class=\"has-text-align-left\" data-align=\"left\"><strong>System 2 (Slow)<\/strong><\/td><td class=\"has-text-align-center\" data-align=\"center\">Analitis, statistik, lambat, memproses data rumit.<\/td><td class=\"has-text-align-center\" data-align=\"center\">Membutuhkan waktu &amp; kapasitas; jarang dipakai dalam krisis.<\/td><\/tr><\/tbody><\/table><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Merujuk pada konsep psikologi kognitif Daniel Kahneman, pembuat kebijakan lebih sering mengandalkan <strong>System 1<\/strong> <strong>(<\/strong><strong>fast thinking<\/strong><strong>)<\/strong>\u2014yaitu intuisi cepat dan pintasan mental\u2014dibandingkan analisis statistik <strong>System 2<\/strong> <strong>(<\/strong><strong>slow thinking<\/strong><strong>)<\/strong> yang rumit.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Hal ini memicu fenomena <em>motivated reasoning<\/em> dan <em>confirmation bias<\/em>. Ketika disajikan data yang tidak sesuai dengan posisinya, mereka cenderung mengabaikannya. Sebaliknya, data yang menguntungkan akan dipublikasikan secara masif untuk memperkuat legitimasi politik.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Bagi seorang politisi, data survei SMRC (44,5%) akan diabaikan jika bertentangan dengan posisinya, sementara data PPI (65,4%) akan diamplifikasi secara masif untuk menciptakan narasi legitimasi. Informasi ilmiah akhirnya dikomodifikasi sesuai dengan kebutuhan elektoral.<\/p>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator has-alpha-channel-opacity\"\/>\n\n\n\n<h3 id=\"3-mitos-what-works-dan-perangkap-hierarki-bukti\" class=\"wp-block-heading\"><strong>3. Mitos &#8220;What Works&#8221; dan Perangkap Bias Kebijakan<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Justin Parkhurst (2017) membagi bias dalam penggunaan bukti ilmiah menjadi dua kategori utama:<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Bias Isu (<\/strong><strong>Issue Bias \/ Depoliticisation of Politics<\/strong><strong>)<\/strong>: Terjadi ketika jargon &#8220;<em>evidence-based<\/em>&#8221; atau hierarki eksperimen kuantitatif digunakan untuk <strong>mendepolitisasi ruang publik<\/strong>. Pengambil keputusan mengaburkan pertimbangan nilai sosial di balik suatu kebijakan dengan mengklaim bahwa keputusannya adalah &#8220;hasil data murni&#8221;.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Bias Teknis (<\/strong><strong>Technical Bias \/ Politisation of Science<\/strong><strong>)<\/strong>: Terjadi ketika metodologi ilmiah dimanipulasi demi mencapai tujuan politik pra-konsepsi. Hal ini bermanifestasi dalam pembuatan desain riset pesanan, pemilihan data secara tebang pilih (<em>cherry-picking<\/em>), hingga klaim hubungan sebab-akibat yang tidak tepat.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-table\"><table class=\"has-fixed-layout\"><thead><tr><th colspan=\"3\"><strong>LAPISAN EVALUASI VALIDITAS BUKTI (CARTWRIGHT &amp; PARKHURST)<\/strong><\/th><\/tr><tr><th><strong>Pertanyaan Evaluasi<\/strong><\/th><th><strong>Pendekatan \/ Alat Jawab<\/strong><\/th><th><strong>Fokus Validitas<\/strong><\/th><\/tr><\/thead><tbody><tr><td>1. &#8220;Did it work somewhere?&#8221;<\/td><td>RCT \/ Uji Eksperimental<\/td><td>Eksperimental Internal<\/td><\/tr><tr><td>2. &#8220;Will it work elsewhere?&#8221;<\/td><td>Analisis Validitas Eksternal<\/td><td>Generalisasi \/ Eksternal<\/td><\/tr><tr><td><strong>3. &#8220;WILL IT WORK FOR US?&#8221;<\/strong><\/td><td><strong>Kesesuaian (Appropriateness)<\/strong><\/td><td><strong>Konteks Lokal<\/strong><\/td><\/tr><\/tbody><\/table><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Parkhurst (2017) dan filsuf sains Nancy Cartwright mengingatkan bahwa eksperimen teruji hanya menjawab pertanyaan <em>&#8220;Did it work somewhere?&#8221;<\/em> (Apakah intervensi tersebut pernah berhasil di suatu tempat?). Namun, yang dibutuhkan oleh pembuat kebijakan lokal adalah jawaban atas pertanyaan <strong>&#8220;Will it work for us?&#8221;<\/strong> (Apakah intervensi tersebut akan berhasil untuk konteks kita?). Kebijakan sosial bersifat terikat konteks; apa yang berhasil di satu wilayah belum tentu dapat diterapkan di wilayah lain.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dengan demikian, data riset dan hasil survei berfungsi sebagai sumber daya yang dipertukarkan:<\/p>\n\n\n\n<ol class=\"wp-block-list\">\n<li><strong>Lembaga Riset atau Konsultan<\/strong> menyediakan data tersebut untuk memperoleh <strong>Akses Kebijakan<\/strong> dan insentif pendanaan.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Pemerintah<\/strong> membutuhkan data sebagai sumber daya <strong>Informasi<\/strong> dan <strong>Dukungan Politik<\/strong> untuk mempertahankan legitimasi publik dan meloloskan regulasi.<\/li>\n<\/ol>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator has-alpha-channel-opacity\"\/>\n\n\n\n<h3 id=\"5-menuju-good-governance-of-evidence\" class=\"wp-block-heading\">4. <strong>Kesimpulan: Menuju<\/strong> <strong>Good Governance of Evidence<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Memahami adanya bias dalam data dan survei bukan berarti kita harus bersikap skeptis terhadap sains. Sebaliknya, pemahaman ini mendorong kita untuk menerapkan prinsip <strong>Tata Kelola Bukti yang Baik (<\/strong><strong>Good Governance of Evidence<\/strong><strong>)<\/strong> (Parkhurst, 2017):<\/p>\n\n\n\n<ol class=\"wp-block-list\">\n<li><strong>Legitimasi Input<\/strong>: Riset dirancang oleh lembaga independen yang memiliki keahlian metodologis serta terbebas dari konflik kepentingan sponsor.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Legitimasi Throughput<\/strong>: Proses pengolahan data dilakukan secara transparan (<em>open data<\/em>) dan terbuka untuk diuji ulang oleh publik maupun akademisi independen.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Legitimasi Output<\/strong>: Kebijakan yang dihasilkan benar-benar menjawab kebutuhan nyata masyarakat lokal secara adil.<\/li>\n<\/ol>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Disparitas angka survei mengingatkan kita pada satu prinsip utama: <strong>data tidak pernah berbicara sendiri<\/strong>. Masyarakat yang kritis perlu melihat proses dan latar belakang di balik angka-angka yang disajikan di ruang publik.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><\/p>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ketika lembaga survei merilis tingkat kepuasan publik terhadap kinerja pemerintah, masyarakat umumnya menganggap angka-angka tersebut sebagai cerminan objektif atas kondisi sosial yang sebenarnya. Namun, sebagai contoh, fenomena perbandingan data survei terkait kepuasan publik atas kinerja 2 tahun pemerintahan Prabowo &#8211; Gibran berikut menarik untuk dicermati: Dari hasil tersebut timbul pertanyaan, mengapa tiga lembaga riset bereputasi, [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":918,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_gspb_post_css":"","footnotes":""},"categories":[78],"tags":[88,89,87],"class_list":["post-904","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-wawasan1","tag-analisis-hasil-survei","tag-bias-analisis","tag-data-governance"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/akuntabilitas.com\/ro\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/904","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/akuntabilitas.com\/ro\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/akuntabilitas.com\/ro\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/akuntabilitas.com\/ro\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/akuntabilitas.com\/ro\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=904"}],"version-history":[{"count":10,"href":"https:\/\/akuntabilitas.com\/ro\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/904\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":959,"href":"https:\/\/akuntabilitas.com\/ro\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/904\/revisions\/959"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/akuntabilitas.com\/ro\/wp-json\/wp\/v2\/media\/918"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/akuntabilitas.com\/ro\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=904"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/akuntabilitas.com\/ro\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=904"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/akuntabilitas.com\/ro\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=904"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}